Penyebab Perilaku Amoral Menurut Pakar Psikologi

Pengantar

Perilaku amoral seringkali menjadi topik pembicaraan di masyarakat. Amoral sendiri adalah perilaku yang tidak mengacu pada norma, etika, atau moralitas yang dianut oleh masyarakat. Perilaku amoral bisa terjadi pada siapa saja dan bisa menjadi masalah jika terus berlanjut. Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan perilaku amoral? Berikut adalah beberapa penjelasan dari pakar psikologi.

Keturunan

Menurut psikolog, sifat amoral bisa menjadi bawaan genetik. Artinya, seseorang yang memiliki keturunan dengan orang yang memiliki sifat amoral, kemungkinan besar akan mewarisi sifat tersebut. Meskipun tidak seluruhnya seperti itu, tetapi memang ada kemungkinan. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk memberikan contoh yang baik pada anak-anak mereka.

Pengalaman masa lalu

Perilaku amoral juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Misalnya, seseorang yang sering menjadi korban kekerasan di masa kecilnya, kemungkinan besar akan memiliki perilaku amoral di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh trauma yang dialaminya pada masa lalu dan akhirnya mempengaruhi perilakunya di masa depan.

Lingkungan

Lingkungan juga bisa menjadi faktor penyebab perilaku amoral. Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang memiliki budaya yang tidak memperhatikan moralitas, maka kemungkinan besar ia akan memiliki perilaku yang sama. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan sosial dalam lingkungan tersebut.

Kurangnya Pendidikan Moral

Pendidikan moral sangat penting dalam membentuk perilaku kita. Jika seseorang tidak pernah mendapatkan pendidikan moral yang baik, maka kemungkinan besar ia akan sulit membedakan hal yang benar dan salah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memperhatikan pendidikan moral, terutama pada anak-anak.

Tuntutan Karir

Seringkali, tuntutan karir membuat seseorang kehilangan moralitasnya. Misalnya, seseorang yang bekerja di dunia politik, kemungkinan besar akan menerima suap untuk kepentingan pribadinya. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan dalam pekerjaannya dan akhirnya merubah moralitasnya.

Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi

Seseorang yang memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi, kemungkinan besar akan memiliki perilaku amoral. Misalnya, seseorang yang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya, namun tidak memiliki sumber penghasilan yang cukup, kemungkinan besar akan melakukan tindakan amoral untuk memenuhi kebutuhannya.

Kondisi Psikologis

Kondisi psikologis seseorang juga bisa menjadi penyebab perilaku amoral. Misalnya, seseorang yang mengalami gangguan mental seperti sociopath atau psychopath, kemungkinan besar akan memiliki perilaku amoral. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan pada otaknya.

Pengaruh Media

Seringkali, media juga mempengaruhi perilaku seseorang. Misalnya, film-film yang menampilkan kekerasan atau seksualitas yang berlebihan, bisa mempengaruhi perilaku seseorang menjadi amoral. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh dari media yang masuk ke dalam pikiran seseorang.

Kepribadian

Kepribadian seseorang juga bisa mempengaruhi perilaku amoral. Misalnya, seseorang yang memiliki kepribadian yang otoriter atau narcisstic, kemungkinan besar akan memiliki perilaku amoral. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan untuk memperoleh keuntungan pribadi tanpa memperhatikan orang lain.

Tidak Adanya Konsekuensi

Tidak adanya konsekuensi dari tindakan amoral bisa membuat seseorang semakin mengulanginya. Misalnya, ketika seseorang melakukan tindakan amoral dan tidak mendapatkan hukuman atau konsekuensi apapun, maka ia akan semakin mudah untuk melakukan tindakan yang sama di kemudian hari.

Kesulitan Melawan Godaan

Seringkali, seseorang sulit untuk melawan godaan untuk melakukan tindakan amoral. Misalnya, seseorang yang memiliki godaan untuk mencuri, kemungkinan besar sulit untuk menolak godaan tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan internal yang membuatnya sulit melawan godaan.

Penyakit Mental

Penyakit mental juga bisa menjadi faktor penyebab perilaku amoral. Misalnya, seseorang yang mengalami penyakit bipolar, kemungkinan besar akan memiliki perilaku amoral ketika dalam keadaan mania. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan pada otaknya.

Kurangnya Empati

Kurangnya empati pada seseorang bisa membuatnya sulit memahami perasaan orang lain. Hal ini bisa mempengaruhi perilakunya menjadi amoral. Misalnya, seseorang yang tidak memiliki empati, kemungkinan besar akan sulit merasakan kesedihan orang lain, sehingga ia akan mudah melakukan tindakan amoral.

Dorongan untuk Memperoleh Keuntungan

Dorongan untuk memperoleh keuntungan bisa mempengaruhi perilaku seseorang menjadi amoral. Misalnya, seseorang yang mencari cara cepat untuk memperoleh uang, kemungkinan besar akan melakukan tindakan amoral untuk mencapai tujuannya.

Tidak Adanya Etika

Tidak adanya etika pada seseorang bisa membuatnya sulit membedakan hal yang benar dan salah. Hal ini bisa mempengaruhi perilakunya menjadi amoral. Misalnya, seseorang yang tidak memiliki etika, kemungkinan besar akan melakukan tindakan amoral tanpa memperhatikan akibat dari tindakannya.

Pengaruh Teman

Seringkali, pengaruh dari teman juga bisa mempengaruhi perilaku seseorang menjadi amoral. Misalnya, seseorang yang bergaul dengan teman yang memiliki perilaku amoral, kemungkinan besar akan terpengaruh dan melakukan tindakan yang sama.

Tidak Adanya Pendidikan Agama

Tidak adanya pendidikan agama pada seseorang bisa mempengaruhi perilakunya menjadi amoral. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengenalan terhadap nilai-nilai agama yang seharusnya membentuk moralitas seseorang.

Dorongan untuk Terlihat Baik di Mata Orang Lain

Seringkali, dorongan untuk terlihat baik di mata orang lain bisa membuat seseorang melakukan tindakan amoral. Misalnya, seseorang yang ingin terlihat kaya dan sukses, kemungkinan besar akan melakukan tindakan amoral untuk mencapai itu.

Kurangnya Perhatian Orang Tua

Kurangnya perhatian orang tua pada anak-anak bisa mempengaruhi perilaku mereka menjadi amoral. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan moral yang diberikan kepada anak-anak.

Ketergantungan pada Narkoba atau Alkohol

Ketergantungan pada narkoba atau alkohol bisa mempengaruhi perilaku seseorang menjadi amoral. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh dari zat tersebut yang membuat seseorang kehilangan kendali diri.

Kesimpulan

Perilaku amoral bisa terjadi pada siapa saja dan bisa menjadi masalah jika terus berlanjut. Beberapa faktor yang bisa mempengaruhi perilaku amoral adalah keturunan, pengalaman masa lalu, lingkungan, kurangnya pendidikan moral, tuntutan karir, kebutuhan yang tidak terpenuhi, kondisi psikologis, pengaruh media, kepribadian, tidak adanya konsekuensi, kesulitan melawan godaan, penyakit mental, kurangnya empati, dorongan untuk memperoleh keuntungan, tidak adanya etika, pengaruh teman, tidak adanya pendidikan agama, dan ketergantungan pada narkoba atau alkohol.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan perilaku amoral?
Perilaku amoral adalah perilaku yang tidak mengacu pada norma, etika, atau moralitas yang dianut oleh masyarakat.2. Apa saja faktor yang bisa mempengaruhi perilaku amoral?
Beberapa faktor yang bisa mempengaruhi perilaku amoral adalah keturunan, pengalaman masa lalu, lingkungan, kurangnya pendidikan moral, tuntutan karir, kebutuhan yang tidak terpenuhi, kondisi psikologis, pengaruh media, kepribadian, tidak adanya konsekuensi, kesulitan melawan godaan, penyakit mental, kurangnya empati, dorongan untuk memperoleh keuntungan, tidak adanya etika, pengaruh teman, tidak adanya pendidikan agama, dan ketergantungan pada narkoba atau alkohol.3. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku amoral?
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah perilaku amoral adalah memberikan pendidikan moral yang baik, menghindari lingkungan yang tidak memperhatikan moralitas, memperhatikan kesehatan psikologis, dan tidak mencoba untuk memperoleh keuntungan dengan cara amoral.Terima kasih kamu telah membaca artikel ini. Silakan baca artikel saya yang lainnya.